KAJANG, TITIK-FAKTA.COM – Ada tempat-tempat yang tidak cukup hanya dikunjungi. Ia perlu didengar, dipahami, dan direnungkan.
Kajang, di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, adalah salah satunya.
Di balik hamparan alam dan kehidupan masyarakatnya yang sederhana, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul nama Kajang, sosok Ammatoa, serta filosofi Pattope Lekleng-pakaian berwarna hitam yang hingga kini menjadi identitas kuat masyarakat adat Kajang.
Cerita-cerita itu diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian hadir dalam bentuk legenda, sebagian lainnya hidup melalui Pasang ri Kajang, ajaran dan pesan leluhur yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat adat.
Legenda Nama Kajang
Cerita turun-temurun mengisahkan, pada zaman dahulu kala, sebuah rombongan berperahu besar berlabuh di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Kajang.
Konon, perahu tersebut berasal dari Luwu. Di atasnya terdapat seorang perempuan cantik bernama Datuk Manila, putri Datuk Luwu yang telah dilepaskan di Luwu, bersama puluhan pengawal, berbagai perlengkapan, serta alat musik dan hiburan.
Ketika rombongan itu berlabuh di pinggir pantai Balukang yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Kassi di Kajang mereka menggelar pesta.
Bunyi alat musik yang dimainkan dari atas perahu menarik perhatian masyarakat sekitar. Mereka berdatangan untuk menyaksikan kemeriahan tersebut. Di tengah rombongan, perhatian masyarakat tertuju kepada seorang perempuan cantik yang berada di dalam perahu bertenda.
Kabar tentang kecantikan Datuk Manila akhirnya sampai kepada kepala adat dan Labbiria atau Karaeng.
Karaeng pun datang untuk melihat langsung perempuan yang kecantikannya telah menjadi buah bibir. Rupanya, pertemuan itu membuat Karaeng tertarik untuk mempersunting Datuk Manila.
Galla Puto kemudian diutus untuk menyampaikan lamaran dengan membawa persembahan uang dalam jumlah besar sebagai mas kawin.
Namun, lamaran itu ditolak.
Alasannya sederhana: Datuk Manila dan rombongannya memiliki uang yang cukup banyak.
Tidak menyerah, Galla Puto kembali datang dengan persembahan berupa kerbau dalam jumlah besar. Lagi-lagi lamaran tersebut ditolak karena rombongan Datuk Manila juga memiliki banyak kerbau.
Pada lamaran berikutnya, Galla Puto datang bukan lagi sebagai utusan Karaeng.
Ia melamar Datuk Manila untuk dirinya sendiri.
Kali ini, persembahan yang dibawa bukan uang dan bukan pula kerbau. Galla Puto hanya menyodorkan sepetak tanah sebagai mas kawin.
Datuk Manila dan rombongannya mempertimbangkan lamaran tersebut. Mereka membutuhkan tempat untuk menetap.
Lamaran akhirnya diterima.
Galla Puto dan Datuk Manila pun menikah, meski tanpa izin dari Karaeng dan adat.
Karaeng dan para pemangku adat murka mengetahui pernikahan tersebut. Sebagai ganjaran, Galla Puto diperintahkan menyerahkan 40 orang untuk menjadi bawahannya.
Datuk Manila tidak keberatan. Ia kemudian menyerahkan 40 orang pengawalnya.
Ketika Kajang Terbang Bersama Angin
Kisah nama Kajang kemudian berlanjut pada sebuah peristiwa yang tidak kalah menarik.
Suatu ketika, adat hendak mengadakan pertemuan. Mereka membutuhkan tempat bernaung dan meminjam tenda milik Datuk Manila yang dahulu digunakan di atas perahunya.
Tenda tersebut dikenal dengan nama Kajang.
Namun, ketika pertemuan berlangsung, angin tiba-tiba bertiup sangat kencang.
Tenda Kajang diterbangkan angin hingga hilang dan tidak ditemukan.
Datuk Manila marah dan meminta ganti rugi atas kehilangan tersebut.
Setelah melalui pembicaraan adat, diputuskan bahwa kehilangan Kajang harus diganti dengan sebidang tanah.
Tanah tersebut kemudian menjadi penanda. Wilayah itu dan sekitarnya disebut Kajang.
Apakah kisah ini merupakan fakta sejarah atau legenda yang berkembang dalam ingatan kolektif masyarakat?
Pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab.
Namun, bagi sebuah masyarakat adat, legenda bukan semata-mata soal benar atau salah secara historis. Di dalamnya terdapat cara suatu komunitas menjelaskan asal-usul tempat, hubungan sosial, nilai kehormatan, serta hubungan manusia dengan tanah.
Ammatoa: Bukan Sekadar Orang yang Dituakan
Kajang juga tidak dapat dilepaskan dari sosok Ammatoa.
Secara harfiah, Ammatoa berasal dari dua kata: Amma yang berarti bapak dan Toa yang berarti tua.
Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar “bapak yang tua”.
Ammatoa adalah sosok yang dituakan karena kebijaksanaan, pengetahuan, kemampuan memimpin, serta pemahamannya terhadap kehidupan dan ajaran leluhur.
Ia bukan dihormati semata-mata karena usia.
Ia dihormati karena dianggap memiliki kelebihan dan kemampuan untuk menjadi pedoman bagi masyarakat.
Dalam pemahaman masyarakat Kajang, Ammatoa adalah figur yang memiliki pandangan luas, pengetahuan mendalam, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Karena itu, ia dihormati, disayangi, sekaligus dipatuhi.
Dalam Pasang ri Kajang, Ammatoa dikisahkan datang secara tiba-tiba bersama istrinya ke wilayah tersebut.
Ia dianggap memiliki kemampuan lebih dibandingkan masyarakat yang telah tinggal sebelumnya, baik dalam memimpin maupun dalam bercocok tanam.
Karena kelebihan tersebut, masyarakat kemudian menganggapnya sebagai manurung sosok yang memiliki kedudukan istimewa dan menjadikannya pemimpin.
Ia dipandang sebagai ayah.
Sebagai Amma.
Pattope Lekleng: Mengapa Harus Hitam?
Salah satu hal yang paling mudah dikenali ketika berbicara tentang masyarakat adat Kajang adalah warna hitam.
Pakaian berwarna hitam atau Pattope Lekleng bukan sekadar pakaian adat.
Di balik warna tersebut tersimpan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan, kesederhanaan, kesetaraan, dan ajaran leluhur.
Ada sejumlah pemaknaan yang berkembang mengenai warna hitam tersebut.
Pertama, warna hitam dikaitkan dengan Pasang. Dalam pemahaman tertentu, hitam dianggap sebagai warna yang pertama-tama muncul di dunia. Hal tersebut dianalogikan dengan kelahiran manusia, ketika bagian pertama yang tampak adalah kepala yang berwarna gelap atau hitam.
Kedua, hitam menjadi simbol kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari kekurangan.
Manusia selalu merasa belum cukup. Selalu memiliki kesibukan, keinginan, kebutuhan, dan persoalan dalam menjalani kehidupan.
Warna gelap kemudian dimaknai sebagai simbol kesusahan dan kenyataan hidup.
Ketiga, terdapat pemahaman tentang suatu masa ketika akan digelar rapat besar. Dalam gambaran tersebut, hanya mereka yang mengenakan pakaian hitam yang diperbolehkan mengikuti rapat.
Jika direnungkan, warna hitam masyarakat Kajang seolah mengajarkan sesuatu yang sederhana: manusia tidak perlu membedakan dirinya berdasarkan kemewahan.
Hitam membuat semuanya terlihat sama.
Tidak ada pakaian yang terlalu mencolok.
Tidak ada kemewahan yang harus dipamerkan.
Ada kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan.
Kajang dan Pelajaran tentang Kesederhanaan
Di tengah kehidupan modern yang sering kali diukur dari kepemilikan, penampilan, dan kemampuan menunjukkan status sosial, masyarakat adat Kajang menawarkan perspektif yang berbeda.
Hitam bukan sekadar warna.
Tanah bukan sekadar tempat berpijak.
Ammatoa bukan sekadar pemimpin.
Dan Pasang ri Kajang bukan sekadar cerita lama.
Semuanya membentuk sebuah cara pandang mengenai bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.
Legenda tentang Datuk Manila dan Galla Puto, kisah asal-usul nama Kajang, kedudukan Ammatoa, hingga filosofi Pattope Lekleng menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui buku.
Ada kebudayaan yang diwariskan melalui cerita.
Ada yang diwariskan melalui pakaian.
Ada yang diwariskan melalui ritual.
Dan ada pula yang diwariskan melalui sikap hidup.
Mungkin inilah alasan mengapa Kajang tetap menarik untuk dibicarakan.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Kajang masih berusaha menjaga identitasnya.
Sebab pada akhirnya, kemajuan tidak harus berarti meninggalkan masa lalu.
Justru dari masa lalu, sebuah masyarakat dapat menemukan alasan mengapa mereka harus tetap menjaga jati dirinya.
Kajang mengajarkan bahwa menjadi sederhana bukan berarti tertinggal. Kadang, kesederhanaan justru merupakan bentuk paling kuat dari keteguhan sebuah identitas.
Dikutip dari Situs Inart’s Story
(Red)












