NEPAL, TITIK–FAKTA.COM – Korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet terus bertambah. Hingga Sabtu, (29/08/2026), sedikitnya 586 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 2.478 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Bencana besar yang terjadi sejak Rabu, 26 Agustus, itu meninggalkan kehancuran di kawasan pegunungan Himalaya. Tim penyelamat masih berpacu dengan waktu untuk mencari korban yang tertimbun material longsor, terseret arus, maupun terisolasi di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.
Berdasarkan laporan otoritas penanggulangan bencana Nepal, sedikitnya 579 orang meninggal dunia di wilayah Nepal. Sementara itu, pemerintah China melaporkan tujuh orang tewas di wilayah Tibet.
Jumlah korban hilang juga mengalami lonjakan drastis dibandingkan laporan sebelumnya. Di wilayah Nepal, sebanyak 1.924 orang masih belum ditemukan. Sedangkan di Tibet, sedikitnya 554 orang dilaporkan hilang.
Tim penyelamat di kedua sisi perbatasan terus melakukan pencarian di tengah medan yang berat. Di Tibet, tim SAR dilaporkan telah berhasil mencapai kawasan perbatasan utama yang mengalami kerusakan parah akibat longsoran dan banjir bandang.
Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir.
Pemerintah Nepal kembali memperingatkan masyarakat mengenai kemungkinan terjadinya banjir susulan. Warga di sejumlah kawasan berisiko diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menuju daerah yang lebih aman setelah muncul kekhawatiran terhadap kondisi perairan dan material longsoran di kawasan pegunungan.
Bencana tersebut juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Tim kemanusiaan memperkirakan puluhan ribu orang terdampak, sementara sejumlah infrastruktur penting dilaporkan rusak akibat terjangan air, lumpur, batu, dan material dari kawasan pegunungan.
Upaya penanganan darurat kini mendapat perhatian internasional. Sejumlah negara dan lembaga dunia mulai menawarkan bantuan kemanusiaan untuk mendukung penanganan korban dan pemulihan wilayah terdampak.
Kanada dilaporkan menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai jutaan dolar Kanada untuk mendukung operasi darurat di Nepal. Uni Eropa juga menyatakan komitmennya memberikan bantuan bagi penanganan krisis kemanusiaan akibat bencana tersebut.
Bukan Dipicu Gempa
Pada tahap awal, muncul laporan yang menyebut bencana tersebut berkaitan dengan aktivitas gempa bumi yang memicu longsoran es dan batuan di kawasan pegunungan.
Namun, analisis lanjutan dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan gambaran yang berbeda. Berdasarkan kajian awal mereka, peristiwa tersebut diduga dipicu oleh kegagalan lereng secara cepat yang melibatkan runtuhan material glasial di kawasan Langtang National Park, dekat perbatasan China.
Material berupa batuan, es, lumpur, dan air kemudian bergerak deras mengikuti aliran sungai dan menghantam kawasan-kawasan di hilir. Arus bencana tersebut dilaporkan menjalar hingga puluhan kilometer dan menghancurkan bangunan serta infrastruktur di sepanjang jalurnya.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan kepanikan warga ketika gelombang besar material berupa air, lumpur, dan bebatuan menerjang kawasan permukiman. Sejumlah orang terlihat berlarian menyelamatkan diri beberapa saat sebelum bangunan dan kendaraan dihantam terjangan material.
Nepal sendiri merupakan negara dengan bentang alam pegunungan yang sangat rentan terhadap bencana alam. Banjir bandang, tanah longsor, dan berbagai ancaman dari kawasan Himalaya menjadi risiko yang terus dihadapi masyarakat, terutama ketika kondisi cuaca dan lingkungan memperburuk stabilitas kawasan pegunungan.
Hingga kini, operasi pencarian masih berlangsung. Dengan ribuan orang yang belum ditemukan, jumlah korban diperkirakan masih dapat berubah seiring tim penyelamat menjangkau wilayah-wilayah yang sebelumnya terputus akibat bencana.
Di tengah medan yang sulit dan ancaman bencana susulan, Nepal dan Tibet kini menghadapi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. (*)












