Pitan Daslani: Tanpa Sadar, Kita Masih Merayakan Warisan Kolonialisme di Hari Kemerdekaan

Foto: Pitan Daslani

JAKARTA, TITIKFAKTA.COM Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah lomba panjat pinang yang hampir selalu menjadi bagian dari kemeriahan perayaan kemerdekaan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan: apakah panjat pinang benar-benar lahir sebagai tradisi kemerdekaan Indonesia, atau justru merupakan peninggalan masa kolonial Belanda?

Pertanyaan Pitan Daslani di acara podcast Abraham Samad.

“Bodohnya kita adalah, justru pada hari merdeka, kita rayakan dengan peninggalan Belanda yang membodohi kita. Kenapa kita gak sadar selama ini?” kata Pitan Daslani.

Ia kemudian mengungkapkan cerita mengenai perayaan pada masa kolonial Belanda.

“Dulu Presiden Soekarno pidato tahun ’64 kalau enggak salah, beliau katakan begini:

‘Tugas saya adalah mengusir penjajah, musuh saya adalah penjajah. Tapi musuh kalian nanti adalah bangsamu sendiri.’

Jadi sebenarnya begini, dulu perayaan itu bukan 17 Agustus, tapi 31 Agustus merayakan hari lahirnya Ratu Wilhelmina,” ujar Pitan Daslani.

Menurutnya, pada masa itu tentara Belanda yang datang ke Indonesia tidak memiliki hiburan. Karena itu, masyarakat pribumi kemudian dilibatkan dalam berbagai kegiatan untuk memeriahkan perayaan tersebut.

“Dulu tentara Belanda yang datang di sini mereka kan tidak ada hiburan. Jadi bagaimana perayaan 31 Agustus ini mau dirayakan dengan cara apa?” katanya.

Pitan Daslani kemudian menggambarkan bagaimana masyarakat pribumi ketika itu diminta memasang tiang dan menggantung berbagai barang di atasnya.

“Orang-orang pribumi ini disuruh pasang tiang, lalu digantung macam-macam: sandal jepit, handuk, panci, korek api, semua gantung di atas. Orang pribumi disuruh manjat,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi masyarakat Indonesia yang masih miskin pada masa itu membuat hadiah-hadiah tersebut menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diperebutkan.

“Bagi orang Indonesia waktu itu karena masyarakat masih miskin sekali zaman itu, tahun 1920-an ke atas ini banyak hadiah nih yang bisa diambil. Jadi yang mereka kejar hadiahnya,” katanya.

Namun, Pitan Daslani melihat adanya sudut pandang berbeda dari pihak Belanda yang menyaksikan perlombaan tersebut.

“Tapi bagi Belanda yang lagi nonton: ‘Beginilah caranya mengajari mereka untuk saling injak.’”

Menurutnya, pola tersebut kemudian dianggap tertanam dalam mentalitas masyarakat.

“Itu yang tertanam dalam mentalitas bangsa kita sejak tahun 1920. Kalau untuk kamu dapat itu hadiah, orang naik itu kan harus saling injak kan, saling tarik untuk dapat hadiah yang ala kadarnya itu,” ujarnya.

Pitan Daslani kemudian mengaitkan hal tersebut dengan politik kolonial Belanda yang menurutnya menggunakan strategi memecah belah.

“Yang Belanda lihat adalah ajar mereka seperti ini supaya tertanam dalam mental mereka supaya mereka ke depan itu akan saling injak, karena politik Belanda itu memecah belah.”

Saling Injak yang Masih Terjadi

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan renungan. Apakah benar kebiasaan “saling injak” masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia hingga hari ini?

Jika melihat kehidupan sosial, politik dan berbagai kepentingan, pertanyaan itu tentu menarik untuk direnungkan.

Ketika seseorang mulai naik, tidak jarang ada orang lain yang justru berusaha menariknya ke bawah.

Ketika seseorang mendapatkan kesempatan, orang lain merasa harus merebutnya.

Ketika seseorang berhasil, keberhasilan itu terkadang tidak dianggap sebagai keberhasilan bersama.

Di sinilah pernyataan Pitan Daslani menjadi kritik yang lebih luas.

“Inilah cara dia melestarikan budaya itu supaya kita saling injak. Sampai hari ini masih berlaku kan? Saling injak, tidak bisa ada satu orang naik,” katanya.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah kita benar-benar sudah merdeka dari warisan cara berpikir kolonial?

Kemerdekaan tentu bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik. Kemerdekaan juga menyangkut cara berpikir, cara memperlakukan sesama, serta bagaimana sebuah bangsa membangun masa depannya.

Panjat pinang hari ini memang sudah menjadi permainan rakyat. Masyarakat tidak lagi memainkannya untuk merayakan ulang tahun penguasa kolonial. Perlombaan itu telah menjadi bagian dari tradisi perayaan 17 Agustus.

Namun, sejarah dan asal-usul sebuah tradisi tetap layak dipertanyakan.

Sebab, memahami sejarah bukan berarti harus membenci sebuah tradisi.

Justru dengan memahami sejarah, kita bisa memberikan makna baru.

Jika dahulu orang harus saling mendorong dan berebut untuk mendapatkan hadiah di atas, maka hari ini panjat pinang justru bisa dimaknai sebagai simbol gotong royong.

Seseorang yang berada di atas tidak akan pernah sampai ke puncak tanpa orang-orang yang berada di bawah.

Orang yang berada di bawah bukan berarti paling rendah. Mereka adalah fondasi yang membuat orang lain bisa mencapai puncak.

Dengan demikian, panjat pinang bisa dimaknai secara berbeda.

Bukan lagi sebagai simbol saling menginjak.

Melainkan sebagai simbol bahwa untuk mencapai puncak, manusia membutuhkan orang lain.

Namun, kritik Pitan Daslani tetap penting untuk direnungkan.

“Justru pada hari merdeka, kita merayakan dengan cara Belanda membodohi kita untuk saling injak-menginjak.”

Kalimat itu mungkin terdengar keras.

Tetapi terkadang sebuah bangsa memang membutuhkan pertanyaan yang keras untuk membangunkan kesadarannya.

Sebab kemerdekaan bukan sekadar memasang bendera merah putih, menggelar lomba, atau merayakan 17 Agustus dengan pesta rakyat.

Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita membebaskan diri dari kebiasaan saling menjatuhkan.

Jika dahulu penjajah mengajarkan kita untuk saling menginjak, maka tugas generasi merdeka adalah membuktikan bahwa kita bisa saling menopang.

Dan jika panjat pinang tetap menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan, biarlah maknanya berubah.

Bukan siapa yang paling kuat menginjak.

Tetapi siapa yang mampu membantu orang lain mencapai puncak.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang benar-benar merdeka bukan bangsa yang satu orangnya berhasil berdiri paling tinggi, melainkan bangsa yang mampu membawa semua orang naik bersama. (*)

Gambar