TAKALAR, TITIK-FAKTA.COM – Suasana belajar di SMKN 5 Takalar, Kabupaten Takalar, berubah menjadi kepanikan pada Selasa pagi, (11/08/2026). Seorang siswa berinisial MSA, 15 tahun, diduga diserang teman sekelasnya, R, menggunakan sebilah parang di dalam ruang kelas.
MSA, siswa kelas X TSM, mengalami luka robek pada tangan kiri setelah berusaha menangkis sabetan senjata tajam tersebut. Ia kemudian mendapat penanganan medis dan dirujuk ke RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar.
Kepala SMKN 5 Takalar, Syarifuddin, membenarkan kejadian tersebut. Menurut dia, korban dan terduga pelaku merupakan teman satu kelas.
“Pelaku dan korban satu kelas. Kejadiannya sekitar pukul 07.15 WITA di dalam ruang kelas saat persiapan proses belajar mengajar,” kata Syarifuddin, Selasa sore.
Diduga Berawal dari Pengeroyokan
Syarifuddin mengatakan penyerangan tersebut diduga berkaitan dengan insiden sehari sebelumnya.
Pada Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 14.00 WITA, R disebut sempat dikeroyok sejumlah siswa saat pulang sekolah. MSA diduga menjadi salah satu siswa yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Persoalan itu kemudian diduga berlanjut hingga keesokan pagi.
“Korban yang diparangi hari ini merupakan salah satu yang diduga terlibat dalam pengeroyokan terhadap pelaku di luar sekolah. Kemungkinan pelaku merasa sakit hati sehingga terjadi aksi balasan. Sebelumnya juga ada persoalan saling membully di antara mereka,” ujar Syarifuddin.
Pihak sekolah, kata dia, sempat berupaya menyelesaikan persoalan setelah kejadian pengeroyokan. Namun, proses mediasi tidak berjalan maksimal karena pihak-pihak yang terlibat tidak berada di lokasi ketika guru hendak mempertemukan mereka.
Syarifuddin juga mengatakan sekolah memiliki petugas keamanan. Namun, senjata tajam tersebut diduga disembunyikan R di dalam tas sehingga tidak terdeteksi petugas.
Berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah, R kemudian mengeluarkan parang dan melakukan penyerangan sebanyak dua kali ketika proses belajar mengajar hendak dimulai.
MSA disebut sempat mengangkat tangan untuk melindungi diri. Akibatnya, tangan kiri korban mengalami luka robek dan diduga mengalami patah tulang.
Satu bilah parang yang diduga digunakan dalam penyerangan telah diamankan polisi.
Korban Jalani Perawatan dan Operasi
Direktur RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar, dr. Ruslan, membenarkan MSA sedang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Yang bersangkutan sementara dirawat di Flamboyan Kamar 3A dan rencananya operasi jam 11 hari ini,” kata Ruslan, Rabu, (12/98/2026).
Menurut Ruslan, kondisi korban relatif stabil dan tidak kritis. Penanganan medis langsung diberikan setelah korban tiba di rumah sakit.
“Kondisinya saat ini tidak kritis karena cepat kami tindaklanjuti dan ditangani oleh tenaga medis,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, R telah diamankan di Polres Takalar bersama barang bukti berupa parang yang diduga digunakan dalam kejadian tersebut.
Karena korban dan terduga pelaku masih berusia 15 tahun, proses penanganan perkara akan memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku terhadap anak.
Kepolisian juga diharapkan mengantisipasi kemungkinan aksi lanjutan dengan melakukan pendekatan terhadap kedua keluarga serta memastikan persoalan tidak berkembang menjadi aksi balasan.
LSM Soroti Keamanan Sekolah
Insiden tersebut turut mendapat sorotan dari LSM Pemantik Takalar. Aktivis lembaga tersebut, Suwandi, mempertanyakan sistem pengawasan dan keamanan di lingkungan sekolah.
Menurut dia, masuknya senjata tajam ke lingkungan sekolah merupakan persoalan serius yang perlu dievaluasi.
“Ini yang menjadi pertanyaan, kenapa siswa bisa membawa parang atau sajam,” kata Suwandi.
Ia meminta pihak sekolah dan instansi terkait mengevaluasi sistem pengawasan, termasuk pemeriksaan terhadap barang bawaan siswa jika memang diperlukan.
Bagi sekolah, insiden tersebut menjadi peringatan bahwa konflik antarsiswa yang bermula dari perundungan maupun kekerasan di luar lingkungan sekolah dapat berlanjut dan membawa dampak serius ke ruang belajar.
Kini, perhatian tertuju pada proses hukum terhadap R sekaligus pemulihan kondisi MSA. Di sisi lain, evaluasi sistem keamanan sekolah menjadi penting agar lingkungan pendidikan tidak berubah menjadi tempat berlangsungnya aksi kekerasan. (*)












