TAKALAR, TITIK-FAKTA.COM – Malam ramah tamah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Takalar tak sekadar menjadi ajang berkumpul. Di tengah sajian kuliner tradisional dan lomba Ka’do Minnyak, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyampaikan pesan tentang bagaimana potensi lokal diubah menjadi kekuatan ekonomi.
Acara berlangsung di Tribun Lapangan H. Makkatang Daeng Sibali, Jalan Syekh Yusuf, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Senin malam, 17 Agustus 2026. Tahun ini, malam ramah tamah tidak digelar di Rumah Jabatan Bupati seperti biasanya.
Sekitar 500 tamu memenuhi tribun. Mereka mengenakan batik dan duduk di kursi yang telah disiapkan panitia. Sebanyak 12 meja bundar ditempati jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah atau Forkopimda Takalar.
Daeng Manye satu meja dengan Wakil Bupati Takalar Hengky Yasin, Dandim 1426/Takalar Letkol Inf Anton Timotius Milala, dan Kepala Kejaksaan Negeri Takalar Syamsurezky. Ketua DPRD Takalar Muhammad Rijal, Kapolres Takalar AKBP Ginanjar Fitriadi, dan Sekretaris Daerah Takalar Muhammad Hasbi juga hadir.
Di bagian tengah tribun, 71 anggota Paskibraka Kabupaten Takalar 2026 duduk berbaris.
Di sisi barat tribun, penilaian lomba Ka’do Minnyak berlangsung. Kuliner khas Takalar itu menjadi salah satu atraksi dalam perayaan kemerdekaan tahun ini. Ketua TP PKK Takalar Dewi Sri Ekowati Firdaus dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Takalar Ny. Artika Anton ikut menjadi juri.
Namun, perhatian malam itu tidak berhenti pada lomba kuliner.
Dari Kuliner ke Ekonomi
Dalam sambutannya, Daeng Manye mengajak masyarakat dan pemerintah melihat potensi Takalar dari perspektif ekonomi. Menurut dia, karakter agromaritim Takalar harus bisa diterjemahkan menjadi peluang investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan.
“Kita tawarkan kepada mereka bahwa basis daerah saya secara bisnis ini bisa menarik bagi mereka,” kata Daeng Manye.
Ia mengatakan pembangunan daerah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus menjangkau masyarakat desa, wilayah kepulauan, dan kelompok masyarakat miskin.
“Yang kedua, pembangunan Takalar ini harus inklusif,” ujarnya.
Sebanyak 86 desa di Takalar, kata dia, harus menjadi bagian dari agenda pembangunan, termasuk dalam upaya menekan angka kemiskinan. Akses layanan kesehatan melalui BPJS bagi masyarakat desa dan kelompok miskin juga menjadi perhatian.
Infrastruktur fisik turut mendapat sorotan. Jalan, jembatan, penerangan umum, hingga infrastruktur digital dinilai menjadi fondasi untuk membuka akses masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian.
“Jalan sangat penting, jembatan sangat penting, penerangan umum jalan juga sangat penting,” katanya.
Speedboat hingga Air Terjun Timurung
Daeng Manye kemudian berbicara mengenai optimalisasi aset pemerintah daerah.
Ia menyebut pemerintah berencana memperbaiki speedboat untuk memperkuat akses menuju Tanakeke. Speedboat lainnya direncanakan ditempatkan di kawasan Bendungan Pamukkulu untuk mendukung pengembangan destinasi wisata.
“Ini adalah bagaimana kita mengoptimalkan potensi daerah,” ucapnya.
Menurut Daeng Manye, tujuh destinasi wisata Takalar terus dikembangkan melalui pembenahan fasilitas, infrastruktur, dan jaringan internet.
Air Terjun Timurung menjadi salah satu contoh. Pemerintah berencana memperkuat jaringan komunikasi di kawasan tersebut melalui dukungan repeater.
“Sehingga Air Terjun Timurung sudah bisa selfie-selfie. Tepuk tangan dulu!” kata Daeng Manye, disambut suasana riuh para tamu.
Bagi Daeng Manye, pengembangan pariwisata bukan sekadar membangun tempat wisata. Konektivitas, promosi, dan akses digital harus berjalan beriringan agar kunjungan wisatawan ikut menggerakkan ekonomi warga.
Ka’do Minnyak Masuk Bandara
Pesan tentang ekonomi lokal itu kemudian berujung pada strategi promosi produk daerah.
Daeng Manye mengungkapkan Pemerintah Kabupaten Takalar memiliki gerai di Bandara Sultan Hasanuddin. Gerai tersebut diarahkan menjadi etalase produk khas Takalar.
Kaddo’ minyak, pote’, bipang, hingga jagung bakar disebut sebagai produk yang akan diperkenalkan kepada masyarakat dari luar daerah.
Ia ingin produk lokal Takalar tidak berhenti di pasar lokal. Produk tersebut harus dapat dipesan secara daring dan dikirim kepada konsumen di berbagai daerah.
“Ini kan cara kreatif kita, sehingga orang Jakarta mau pesan bipang Takalar, bisa dari Jakarta pakai Grab,” ujarnya.
Dengan begitu, lomba Ka’do Minnyak pada malam kemerdekaan tidak hanya menjadi perlombaan antarlembaga. Ia menjadi simbol kecil dari gagasan yang lebih besar: mengangkat produk lokal agar memiliki pasar yang lebih luas.
Pemenang Ka’do Minnyak
Setelah penilaian selesai, panitia mengumumkan pemenang lomba Ka’do Minnyak.
Juara pertama diraih Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Takalar. Juara kedua diraih Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar. Sementara juara ketiga diraih Pemerintah Kecamatan Polongbangkeng Timur.
Panitia juga mengumumkan pemenang sejumlah perlombaan Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kabupaten Takalar, antara lain Gerak Jalan Indah, Gerak Jalan Pramuka tingkat SMA dan SMP, serta karnaval tingkat SD dan TK.
Malam semakin cair ketika Kapolres Takalar AKBP Ginanjar Fitriadi naik ke panggung. Ia menyanyikan lagu Separuh Nafas milik Dewa 19.
Penampilan tersebut disambut tepuk tangan. Sejumlah anggota Paskibraka Takalar 2026 bahkan maju ke depan dan ikut berjoget mengikuti irama lagu.
Malam ramah tamah pun ditutup dalam suasana lebih santai. Pemerintah daerah, Forkopimda, Paskibraka, dan masyarakat melebur dalam satu perayaan.
Di antara meja bundar, batik, musik, dan Ka’do Minnyak, pesan Daeng Manye tentang ekonomi lokal menemukan panggungnya: kemerdekaan, kata dia, bukan hanya dirayakan, tetapi juga harus diterjemahkan menjadi kemandirian ekonomi masyarakat. (*)












