TAKALAR, TITIK-FAKTA.COM – Kematian dua bocah di area pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, masih menyisakan tanda tanya. Hampir tiga bulan setelah peristiwa itu, polisi belum menetapkan tersangka.
Kedua korban, Muhammad Alzaky (4) dan Muhammad Al Asril (5), ditemukan meninggal dunia di dalam galian yang tergenang air pada Rabu malam, 27 Mei 2026.
Peristiwa tragis itu terjadi di kawasan proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Bontosunggu, Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar.
Kematian dua anak tersebut terjadi di tengah aktivitas proyek konstruksi yang memiliki sejumlah potensi bahaya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah keberadaan galian dengan kedalaman yang disebut mencapai lebih dari dua meter dan dalam kondisi terisi air.
Pihak PT Nindya Karya sebelumnya telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Mereka juga mengakui bahwa lokasi kejadian berada di dalam kawasan proyek yang tengah dikerjakan.
Selain menyampaikan permohonan maaf, pihak proyek memberikan santunan kepada keluarga korban dengan total Rp100 juta untuk dua anak yang meninggal dunia.
Polisi Periksa Sejumlah Saksi
Pasca kejadian, aparat Satreskrim Polres Takalar melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sejumlah orang yang dianggap mengetahui kondisi proyek saat peristiwa berlangsung juga telah dimintai keterangan.
Mereka antara lain petugas keamanan proyek berinisial NR (52) dan AN (54), petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) berinisial NS, serta pekerja plumbing berinisial UN (42).
Namun, pemeriksaan sejumlah saksi tersebut belum berujung pada penetapan tersangka.
Polisi masih menyelidiki rangkaian kejadian untuk mengungkap bagaimana dua bocah tersebut dapat masuk ke area proyek hingga akhirnya ditemukan tak bernyawa di dalam galian yang dipenuhi air.
Keselamatan Proyek Jadi Sorotan
Kasus ini juga memunculkan pertanyaan mengenai sistem pengamanan kawasan konstruksi. Keberadaan galian terbuka dengan kedalaman lebih dari dua meter dan kondisi tergenang air semestinya menjadi titik rawan yang membutuhkan pengamanan ekstra.
Apalagi, lokasi proyek berada di lingkungan yang memungkinkan anak-anak beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Persoalan utama yang kini menunggu jawaban adalah bagaimana akses menuju lokasi galian bisa terjadi dan sejauh mana standar keselamatan serta pembatasan kawasan proyek telah diterapkan.
Polisi masih mendalami aspek tersebut, termasuk kemungkinan adanya pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan di area proyek.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi mengenai penetapan tersangka dalam kasus meninggalnya Muhammad Alzaky dan Muhammad Al Asril.
Penyelidikan kepolisian masih berlangsung. (*)












