Takalar Dinyatakan WO di Piala Gubernur 2026, Pelatih Lokal Diminta Tak Lagi Jadi Penonton

TAKALAR, TITIKFAKTA.COM Tidak hadirnya tim Kabupaten Takalar dalam gelaran Piala Gubernur Sulawesi Selatan 2026 hingga berujung pada keputusan WO (walkover) menjadi catatan yang disayangkan bagi perkembangan sepak bola di daerah tersebut.

Peristiwa itu dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan hasil pertandingan. Lebih jauh, kejadian tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi terhadap tata kelola, pembinaan, serta keberpihakan terhadap potensi sepak bola yang dimiliki Takalar.

“Ini bukan sekadar persoalan kalah atau menang dalam sebuah pertandingan. Lebih dari itu, kejadian ini menjadi bahan evaluasi tentang bagaimana kita mengelola, membina, dan menghargai potensi sepak bola yang ada di daerah sendiri,” ujar sumber yang menyampaikan pandangan tersebut, Minggu (6/09/2026).

Menurut sumber itu, Takalar sesungguhnya memiliki sejumlah pelatih lokal yang kompeten, berpengalaman, dan telah mengantongi lisensi kepelatihan. Mereka dinilai memiliki keunggulan karena memahami karakter pemain sekaligus kultur sepak bola di daerah.

Namun, kesempatan bagi pelatih lokal untuk menangani tim daerah disebut masih menjadi persoalan.

“Takalar sebenarnya memiliki pelatih-pelatih lokal yang kompeten, berpengalaman, dan telah memiliki lisensi kepelatihan. Mereka adalah putra daerah yang memahami karakter pemain, kultur sepak bola, serta memiliki kepedulian terhadap kemajuan sepak bola Takalar,” kata sumber tersebut.

Ia mempertanyakan masih terbukanya ruang yang lebih besar bagi pelatih dari luar daerah dibandingkan pelatih lokal.

“Bukan berarti pelatih luar tidak memiliki kualitas. Tetapi pertanyaannya adalah, kapan pelatih lokal Takalar akan diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya?” ujarnya.

Menurut dia, kemajuan sepak bola daerah harus dibangun melalui sistem pembinaan yang berkelanjutan. Salah satu langkahnya ialah memberikan ruang kepada sumber daya manusia lokal untuk terlibat langsung dalam pengembangan sepak bola.

Pelatih lokal yang telah memiliki lisensi, kata dia, semestinya tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.

“Jika sepak bola daerah ingin maju, maka pembinaan harus dimulai dari keberanian untuk memberdayakan sumber daya manusia yang dimiliki sendiri. Pelatih lokal yang berlisensi jangan hanya dijadikan penonton di daerahnya sendiri,” tuturnya.

Kejadian WO dalam Piala Gubernur 2026 juga diharapkan tidak berujung pada saling menyalahkan. Sebaliknya, momentum tersebut dinilai penting untuk mempertemukan pengurus, pelatih, pemain, stakeholder, dan insan sepak bola Takalar guna mencari solusi.

“Kejadian WO di Piala Gubernur 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi dan introspeksi bersama, bukan untuk saling menyalahkan. Pengurus, pelatih, pemain, stakeholder, dan seluruh insan sepak bola Takalar perlu duduk bersama mencari solusi,” kata sumber tersebut.

Ia menilai Takalar tidak kekurangan pemain berbakat maupun pelatih yang kompeten. Persoalan utamanya adalah bagaimana membangun sistem yang mampu mengembangkan potensi tersebut secara konsisten.

“Takalar tidak kekurangan talenta. Takalar juga tidak kekurangan pelatih yang kompeten. Yang dibutuhkan adalah sistem yang baik, pembinaan yang berkelanjutan, serta keberanian untuk memberikan kepercayaan kepada putra daerah,” ujarnya.

Sumber itu berharap seluruh pihak menjadikan kejadian tersebut sebagai titik balik untuk membenahi sepak bola Takalar, mulai dari pembinaan usia dini hingga peningkatan kualitas pelatih dan kompetisi.

“Mari kita bangkitkan kembali sepak bola Takalar. Berikan kesempatan kepada pelatih lokal. Berdayakan putra daerah. Bangun pembinaan yang berkelanjutan,” katanya.

Ia menegaskan, pembangunan sepak bola Takalar bukan tanggung jawab satu kelompok atau organisasi saja. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen agar potensi sepak bola daerah dapat berkembang secara berkesinambungan.

“Kemajuan sepak bola Takalar bukan milik satu kelompok, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Takalar Bisa. Takalar Bangkit. Takalar Berprestasi,” ucapnya. (*)

Gambar