TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Sebanyak 20 guru UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, mulai mengenal cara memanfaatkan coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membuat media pembelajaran.
Pelatihan tersebut digelar selama tiga hari, 1–3 September 2026. Kegiatan merupakan bagian dari program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Handayani Makassar Angkatan XXVI Posko 02 Kelurahan Manongkoki.
Pelatihan ini tidak sekadar memberikan teori. Para guru langsung diajak membuat produk media pembelajaran dengan pendampingan mahasiswa KKN yang memiliki latar belakang di bidang teknologi informasi.
Pada hari pertama, kegiatan sempat tertunda akibat pemadaman listrik bergilir di wilayah Manongkoki. Para guru yang telah bersiap sejak pukul 14.00 WITA baru dapat memulai pelatihan sekitar pukul 15.00 WITA setelah listrik kembali menyala.
Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Imran, S.Pd., M.Pd., membuka kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi mahasiswa KKN yang memasukkan pelatihan coding dan AI ke dalam program kerja mereka.
“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN yang telah meluangkan waktu dan memasukkan kegiatan ini ke dalam program kerja mereka.”
Imran meminta para guru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempelajari teknologi yang dinilai semakin relevan dengan dunia pendidikan.
“Kepada rekan-rekan guru, mari manfaatkan dan maksimalkan pelatihan ini untuk menyerap ilmu baru yang sangat relevan dengan disiplin ilmu IT para mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Imran, pelatihan tersebut juga menjadi ruang belajar dua arah. Guru memperoleh pengetahuan baru, sementara mahasiswa KKN mendapat kesempatan menerapkan ilmu yang mereka pelajari di kampus dalam lingkungan masyarakat.
“Ini menjadi ajang belajar, baik bagi guru sebagai peserta maupun adik-adik mahasiswa yang belajar menerapkan dan mengaplikasikan ilmunya di masyarakat dengan situasi yang berbeda dengan lingkungan kampus,” kata Imran.
Dari Kucing di Layar hingga Soal Berbasis AI
Materi hari pertama berfokus pada pengenalan dasar coding dan AI. Materi coding disampaikan mahasiswa Program Studi Teknik Informatika STMIK Handayani Makassar, Risal Ariansyah.
Risal memperkenalkan konsep dasar pemrograman sebelum mengajak guru mempraktikkan logika perintah sederhana melalui Scratch, platform pembelajaran coding yang dikembangkan MIT.
Para guru membuat rangkaian instruksi agar karakter animasi dapat bergerak dan merespons sesuai logika yang mereka susun. Salah satu praktiknya menggunakan objek kucing yang digerakkan melalui kode atau perintah tertentu.
Memasuki hari kedua, materi bergeser pada pemanfaatan AI untuk mendukung pekerjaan guru, terutama dalam menyiapkan bahan dan media pembelajaran.
Para peserta diperkenalkan pada penggunaan ChatGPT. Guru diajarkan menyusun perintah atau prompt yang spesifik agar AI dapat menghasilkan produk sesuai kebutuhan pembelajaran.
Dalam praktiknya, guru mencoba membuat soal bergambar berdasarkan jenjang kelas dan mata pelajaran. Hasilnya kemudian dibuat dalam format dokumen Word.
Sebagian besar peserta berhasil menyelesaikan praktik tersebut. Namun, tiga guru masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut dari mahasiswa KKN.
Salah seorang peserta, Syamsidarwati, bahkan berhasil menggunakan AI untuk membuat poster tabel perkalian yang lebih menarik bagi siswa.
Produk yang dibuat peserta beragam, mulai dari soal pembelajaran dalam format Word hingga poster edukasi. Beberapa guru membuat poster perkalian, struktur organisasi kelas, serta materi tentang siklus hidup manusia, tumbuhan, dan hewan.
Hingga pelatihan memasuki hari ketiga, sebanyak 35 produk atau media pembelajaran berhasil dibuat oleh para guru.
Berawal dari Diskusi di Sekolah
Imran mengatakan pelatihan coding dan AI tersebut berawal dari percakapannya dengan mahasiswa KKN ketika mereka melakukan kunjungan awal ke sekolah.
Melihat latar belakang mahasiswa di bidang komputer dan teknologi informasi, Imran kemudian mengusulkan agar materi coding dan AI diperkenalkan kepada para guru.
“Melihat latar belakang pendidikan mereka di bidang komputer dan IT, saya mengusulkan pengenalan coding dan AI.”
Menurut dia, para guru sebelumnya belum pernah memperoleh pelatihan khusus mengenai materi tersebut. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat kemampuan memanfaatkan AI dan coding semakin penting dalam dunia pendidikan.
“Kebetulan guru-guru kami belum pernah mengikuti pelatihan materi ini, sementara kecerdasan buatan dan coding sudah mulai masuk dalam kurikulum pembelajaran,” ungkap Imran.
Ia berharap pelatihan tidak berhenti setelah mahasiswa KKN meninggalkan sekolah.
Guru-guru diharapkan melanjutkan praktik tersebut melalui komunitas belajar yang telah terjadwal setiap Sabtu.
“Setelah pelatihan ini, kami berharap guru dapat mengulang dan belajar bersama di kegiatan Komunitas Belajar Guru yang telah terjadwal setiap hari Sabtu sebagai hari belajar guru, sehingga pemanfaatan teknologi dapat benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas,” katanya.
Mahasiswa Menyesuaikan Materi
Perwakilan mahasiswa KKN Posko 02 Kelurahan Manongkoki, Risal Ariansyah, mengatakan penyusunan materi menjadi tantangan tersendiri.
Menurut dia, materi coding dan AI yang dipelajari di bangku kuliah tidak bisa begitu saja diterapkan kepada guru sekolah dasar. Materi harus disederhanakan dan dikaitkan dengan kebutuhan pembelajaran di kelas.
“Awalnya kami masih belum terlalu paham materi coding dan AI seperti apa yang pas untuk sekolah dasar, karena tentu berbeda dengan materi kuliah kami.”
Risal mengatakan mahasiswa kemudian mendapat arahan dari kepala sekolah serta menggunakan panduan modul coding dan AI untuk jenjang sekolah dasar.
“Alhamdulillah, berkat arahan Bapak Kepala Sekolah melalui diskusi serta penyediaan panduan modul materi coding dan AI SD, kami dapat mengaitkannya langsung dengan pembuatan media pembelajaran,” tuturnya.
Antusiasme guru, kata Risal, turut membuat pelatihan berjalan efektif.
“Kami sangat bangga bisa berbagi pengetahuan digital dengan para guru di UPT SDN 166 Inpres Bontorita.”
“Antusiasme para peserta sangat luar biasa, terutama saat mencoba langsung pembuatan logika perintah pada media pembelajaran visual,” tambahnya.
Guru Mulai Berani Bereksperimen dengan AI
Guru peserta pelatihan, Rosmala Dewi, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru. Pengetahuan yang diperoleh, kata dia, dapat langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami karena ada pengetahuan baru yang diperoleh dan dapat langsung kami aplikasikan dalam proses pembelajaran di kelas,” jelas Rosmala.
Rosmala mengaku sebelumnya belum memahami cara menggunakan AI. Setelah mengikuti pelatihan selama dua hari, ia mulai mampu menggunakan AI untuk membantu membuat bahan pembelajaran.
Peserta lainnya, Fitriani, justru tertarik pada kemampuan AI mengolah foto dan mengintegrasikannya ke dalam produk yang dibuat.
Menurut Fitriani, teknologi tersebut dapat membantu guru mendapatkan bahan ajar yang lebih menarik dan kreatif.
Pelatihan dijadwalkan berakhir pada 3 September 2026 setelah seluruh materi dan praktik diselesaikan.
Imran berharap kegiatan tersebut menjadi awal bagi guru UPT SDN 166 Inpres Bontorita untuk semakin terbuka terhadap perkembangan teknologi.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi guru untuk lebih terbuka dan mampu memanfaatkan teknologi digital dalam menciptakan pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa,” ujar Imran.
(Red/Liong)












