TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Halaman parkir UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, mendadak berubah menjadi pasar kecil pada Senin siang, (31/08/2026). Lapak-lapak sederhana berdiri, menawarkan hasil karya siswa yang dibuat dari tangan mereka sendiri.
Di antara beragam kerajinan, bunga Maulid dan tusuk telur menjadi produk yang paling mencuri perhatian. Warga sekitar dan orang tua siswa datang membeli karya yang dipajang dalam kegiatan Market Day tersebut.
Kegiatan itu merupakan bagian dari ekstrakurikuler Seni Kriya yang dikembangkan UPT SDN 166 Inpres Bontorita. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk mengasah keterampilan, tetapi juga memperkenalkan siswa pada budaya dan kebutuhan masyarakat di lingkungan sekolah.
Salah seorang siswi kelas 6.A, ST Maryam, terlihat sumringah ketika hasil penjualan kerajinannya berada di tangannya.
“Senang sekali meka’, saya bisa membuat bunga-bunga Maulid dan banyak yang suka dan mau beli,” ujar Maryam.
Belajar dari Tradisi di Sekitar Sekolah
Ekstrakurikuler Seni Kriya tergolong program baru. Kegiatan itu mulai diinisiasi pada Januari 2026 dan diberikan secara bertahap, dari membuat pola, menggunting bahan, hingga merangkai produk.
Pembina Ekstrakurikuler Seni Kriya UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Nurhaeda, S.Pd, mengatakan kegiatan Market Day berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Bahkan, menurut dia, antusiasme warga terhadap produk siswa sudah terlihat sebelum kegiatan resmi dibuka.
Program tersebut, kata Nurhaeda, lahir dari upaya sekolah membaca kebiasaan masyarakat sekitar.
“Ini bukan kebetulan, tapi sudah kami programkan sesuai arahan Bapak Kepala Sekolah. Beliau menanyakan apa kebiasaan dan kebutuhan warga di lingkungan sekolah,” kata Nurhaeda.
Mayoritas masyarakat sekitar, lanjut dia, masih menjalankan tradisi Maulid. Dari situlah sekolah melihat bunga Maulid dan tusuk telur sebagai produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Kepala sekolah kemudian mendorong agar siswa mempelajari keterampilan merangkai sebelum memasuki musim Maulid.
Persiapan kegiatan sempat berhadapan dengan padatnya agenda sekolah dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Namun, Market Day tetap dapat terlaksana.
Nurhaeda berharap kegiatan serupa pada masa mendatang dapat dikemas lebih besar dan melibatkan lebih banyak karya siswa.
Antusiasme juga datang dari orang tua sekaligus warga sekitar, Fitriani. Ia menilai pembelajaran membuat bunga Maulid memberikan manfaat langsung bagi siswa maupun masyarakat.
“Bagus sekali ini anak-anak diajar membuat bunga Maulid, tidak jauh-jauh ma’ lagi ke pasar. Hanya terlambat sedikit ini karena sudah banyak warga yang laksanakan Maulid,” ujar Fitriani.
Dari Keterampilan Menuju Kewirausahaan
Kepala UPT SDN 166 Inpres Bontorita, Imran, S.Pd., M.Pd, mengatakan Seni Kriya sengaja diarahkan lebih jauh dari sekadar kegiatan pengisi waktu luang.
Menurut dia, siswa perlu memahami bahwa keterampilan yang mereka pelajari dapat menjadi bekal untuk kehidupan di masa mendatang.
“Apa yang mereka lakukan melalui proses berjenjang ini membuat siswa mulai paham bahwa apa yang mereka lalui adalah sebuah proses untuk mempersiapkan diri dengan keterampilan yang berguna suatu saat nanti,” ujar Imran.
Pada tahap awal, kegiatan tersebut mendapat dukungan terbatas dari dana operasional sekolah sebagai bentuk uji coba. Uang hasil penjualan kerajinan kemudian akan diputar kembali untuk menunjang kebutuhan ekstrakurikuler Seni Kriya.
Sekolah juga menyiapkan pengembangan program agar melibatkan siswa dari seluruh tingkatan kelas.
Yang ingin diperkuat bukan hanya kemampuan membuat kerajinan, tetapi juga kemampuan menghitung modal, menentukan harga jual, dan memperkirakan keuntungan.
“Yang masih kurang adalah keterlibatan penuh siswa dalam menghitung modal dan menentukan harga jual untuk meraih untung. Ke depan ini akan dipermantap, karena dalam kegiatan ini selain keterampilan dan kewirausahaan, ada pembelajaran literasi serta numerasi di dalamnya,” kata Imran.
Market Day di SDN 166 Inpres Bontorita pada akhirnya bukan sekadar kegiatan jual-beli. Dari bunga Maulid dan tusuk telur, siswa belajar bahwa pelajaran di sekolah dapat bertemu dengan tradisi masyarakat, kreativitas, hingga peluang ekonomi.
Di tangan anak-anak Bontorita, kearifan lokal tak hanya diwariskan, tetapi juga diolah menjadi keterampilan yang bernilai. (Red/Liong)












