TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar mendorong seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memperketat pengawasan keamanan pangan dengan memeriksa bahan baku sebelum digunakan untuk memasak.
Pemeriksaan dapat dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinkes Takalar. Kepala Dinas Kesehatan Takalar, dr Nilal Fauziah, mengatakan pengelola maupun pemasok bahan pangan dapat membawa sampel langsung ke laboratorium untuk diperiksa.
“Hasil tes reagen bisa keluar maksimal empat jam,” kata Nilal saat ditemui di Kantor Dinkes Takalar, Jalan H Padjonga Daeng Ngalle No. 1, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kamis, (24/09/2026).
Menurut Nilal, proses pemeriksaan tidak membutuhkan birokrasi yang berbelit. Sampel bahan makanan dapat langsung diperiksa menggunakan reagen untuk mendeteksi kandungan tertentu yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Ia mendorong pemeriksaan bahan baku tidak hanya dilakukan setelah muncul keluhan dari penerima manfaat, tetapi menjadi bagian dari prosedur pengawasan rutin di setiap SPPG.
“Supplier bisa membawa langsung sampel bahan makanan ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Dorongan tersebut mengemuka setelah Labkesda Dinkes Takalar memeriksa sejumlah sampel makanan dari SPPG Topejawa, Kecamatan Mangarabombang, pada Selasa, (22/09/2026).
Dalam pemeriksaan itu, Dinkes menemukan sampel tahu dari salah satu pemasok dinyatakan positif mengandung boraks.
Temuan tersebut berkaitan dengan laporan sejumlah guru dan pihak sekolah yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan, termasuk tahu. Keluhan yang dilaporkan antara lain gatal-gatal pada kulit hingga pembengkakan pada bibir.
Nilal mengatakan reaksi terhadap makanan dapat berbeda pada setiap orang. Namun, penggunaan boraks sebagai bahan tambahan pangan tetap dilarang.
“Konsumsi boraks dalam jumlah sekecil apa pun tetap dilarang,” katanya.
Ia menjelaskan paparan boraks dalam jangka panjang dapat terakumulasi dalam tubuh dan berpotensi menyebabkan gangguan pada organ.
Setelah menerima laporan mengenai keluhan tersebut, Dinkes Takalar melakukan inspeksi dan pemeriksaan untuk menelusuri kemungkinan sumber masalah pada bahan pangan yang digunakan.
Menurut Nilal, pengawasan seharusnya dilakukan sejak bahan baku diterima oleh SPPG. Hal itu penting terutama untuk bahan pangan olahan seperti tahu dan tempe yang membutuhkan perhatian lebih dalam proses pengadaan dan pemeriksaannya.
Dinkes Takalar juga berharap setiap SPPG memiliki food detection kit agar pemeriksaan awal dapat dilakukan secara mandiri.
“Ke depan, kami berharap setiap SPPG memiliki alat food detection kit untuk pemeriksaan mandiri,” ujar Nilal.
Alat tersebut, kata dia, dapat membantu SPPG melakukan pemeriksaan rutin terhadap bahan makanan yang akan digunakan setiap hari.
Adapun bahan pangan lain, seperti beras, dapat diperiksa sesuai kebutuhan dan karakteristik sampelnya. Untuk pemeriksaan tertentu atau komoditas dalam jumlah besar, sampel dapat dirujuk ke Laboratorium Kesehatan Daerah tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah bahan pangan yang tidak memenuhi persyaratan keamanan masuk ke dalam proses produksi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
(Red/Liong)












