TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye ikut memanen cabai merah bersama warga di Dusun Laikang, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan (Polsel), Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa, (22/09/2026).
Kegiatan itu menjadi kesempatan bagi Daeng Manye untuk melihat langsung perkembangan tanaman cabai sekaligus berbincang dengan petani mengenai hasil produksi dan kondisi harga di tingkat petani.
Turut hadir Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Takalar Parawangsa, Camat Polsel Ayatullah Rawatib, Kapolsek, Danramil 02 Kodim 1426/Takalar, serta para lurah dan kepala desa se-Kecamatan Polsel.
Daeng Manye mengatakan cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki pasar luas karena menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Cabai ini merupakan komoditas unggulan bagi masyarakat luas. Pastinya seluruh masyarakat menggunakan bahan pokok cabai dan saya rasa petani kita ini terus berkembang dari hari ke hari,” kata Daeng Manye.
Ia mengapresiasi produktivitas petani di Desa Moncongkomba. Menurut dia, ketekunan petani dalam mengembangkan komoditas hortikultura dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat pedesaan.
“Saya sangat senang jika melihat petani cabai di Desa Moncongkomba ini yang begitu produktif. Ini juga merupakan simbol ketekunan atau ketelatenan yang mesti didorong agar ekonomi daerah makin menggeliat,” ujarnya.
Daeng Manye mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong sektor pertanian melalui dukungan sarana produksi, teknologi, hingga penguatan sistem pengairan.
“Pertanian adalah tulang punggung ekonomi daerah. Pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan, baik dari sisi bibit, teknologi, hingga irigasi. Kita ingin petani semakin sejahtera,” katanya.
Dalam panen tersebut, para petani disebut telah mampu menutup biaya produksi. Harga cabai yang berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram juga dinilai memberikan ruang keuntungan bagi petani.
“Petani kita sudah balik modal. Apalagi hari ini, seperti yang disampaikan kepala desa, harga cabai sekitar Rp50 ribu per kilogram. Ini tentu menjadi keuntungan bagi petani,” ujar Daeng Manye.
Menurut dia, produktivitas dan harga jual merupakan dua hal yang perlu dijaga secara bersamaan. Pendampingan kepada petani dinilai penting agar hasil produksi tetap tinggi dan komoditas yang dihasilkan memperoleh harga yang layak.
Daeng Manye menyebut pengembangan hortikultura, termasuk cabai, dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
“Kita akan terus dorong inovasi dan kolaborasi agar pertanian kita semakin maju dan ekonomi warga semakin kuat,” kata dia.
Dalam kesempatan tersebut, Daeng Manye menyerahkan bantuan mesin pompa air kepada petani untuk menunjang pengairan tanaman cabai. Ia juga membagikan gula pasir kepada sejumlah petani yang mengikuti kegiatan panen. (*)












