TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye melantik pengurus Forum Komunikasi dan Silaturahmi Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar dalam pembukaan Festival Pondok Pesantren, Kamis (22/10/2026) malam.
Pelantikan yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Bupati Takalar, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, itu menjadi langkah untuk memperkuat koordinasi antarpesantren sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kreativitas santri.

Kepengurusan forum tersebut ditetapkan melalui Keputusan Bupati Takalar Nomor 303 Tahun 2026 tentang Penetapan Pengurus Forum Komunikasi Pimpinan Pondok Pesantren Kabupaten Takalar Periode 2026-2030.
Dalam struktur kepengurusan, Daeng Manye ditetapkan sebagai pembina. Adapun Sekretaris Daerah Takalar, Kepala Kantor Kementerian Agama Takalar, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Takalar bertindak sebagai pengarah.
Sulaiman Unjung, S.Pd.I dipercaya sebagai ketua, didampingi Aminullah, S.Pd.I sebagai wakil ketua. Sementara itu, posisi sekretaris dijabat Amaluddin, S.Pd.I, dan bendahara dipercayakan kepada Dra. Hj. Halijah, M.Pd.
Forum tersebut juga dilengkapi empat bidang, yakni pendidikan, kurikulum dan sumber daya manusia; dakwah dan sosial kemasyarakatan; sarana prasarana, ekonomi dan kesejahteraan; serta hubungan masyarakat, informasi dan kerja sama.
Daeng Manye mengatakan, pembentukan forum tidak sekadar menjadi wadah organisasi, tetapi juga ruang bagi pengelola pesantren untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, dan merumuskan langkah pengembangan pendidikan pesantren secara lebih terarah.
“Tidak hanya berhenti di sini, ini adalah sebagai wadah untuk bagaimana berdiskusi, bagaimana bercerita, bagaimana mengembangkan kepesantrenan ini, santri ini di Takalar ini secara lebih baik, terarah, dan lebih sistematis,” kata Daeng Manye.
Menurutnya, Takalar memiliki 24 pondok pesantren yang berperan penting dalam pembentukan karakter, penguatan moral, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dia menilai pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan seni, teknologi, kreativitas, dan kemandirian santri.
Karena itu, keberadaan forum diharapkan mampu memperkuat komunikasi dan koordinasi antarpesantren sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama Republik Indonesia.
Dengan koordinasi yang lebih baik, pengembangan pendidikan pesantren di Takalar diharapkan semakin terarah dan mampu memberikan ruang lebih luas bagi peningkatan kualitas santri.
Drama Kolosal Angkat Sejarah Islam di Takalar
Pembukaan Festival Pondok Pesantren turut dimeriahkan pertunjukan drama kolosal yang mengangkat sejarah masuknya Islam ke Kabupaten Takalar melalui Kerajaan Sanrobone.
Pertunjukan tersebut dipadukan dengan tari kreasi dan pembacaan puisi yang dibawakan santri dan santriwati Pondok Modern Nurul Asafa.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Asafa, Muhammad Safar, mengatakan persiapan penampilan tersebut berlangsung selama sekitar 10 hari, mulai dari latihan di lingkungan pondok hingga gladi bersih menjelang acara.
“Persiapannya itu kurang lebih 10 hari. Anak-anak latihan di pondok, kemudian gladi-nya di malam terakhir. Pada saat panggung sudah berdiri, anak-anak itu kami arahkan ke sini gladi penampilan,” kata Safar.
Dia menyebut sekitar 80 santri terlibat dalam rangkaian pertunjukan pembukaan festival tersebut.
Menurut Safar, kegiatan seni menjadi bagian dari pengembangan ekstrakurikuler pesantren agar santri tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memiliki kesempatan mengasah keterampilan dan kreativitas.
Bahkan, karya kaligrafi santri Pondok Modern Nurul Asafa turut dimanfaatkan sebagai bagian dari dekorasi panggung.
Setelah pertunjukan pembukaan, festival dilanjutkan dengan berbagai penampilan seni dari sejumlah pesantren, termasuk kasidah dan Tari Saman Aceh yang dibawakan santri Pondok Modern Tarbiyah Takalar.
Pembukaan Festival Pondok Pesantren dihadiri sejumlah pejabat daerah dan unsur terkait. Berdasarkan pantauan di lokasi, masyarakat dan pejabat mulai berdatangan sekitar pukul 18.30 Wita, sedangkan acara pembukaan dimulai sekitar pukul 19.00 Wita.
Ketua panitia yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Takalar, Dody Ryan Saputra, hadir bersama sejumlah pejabat lainnya.
Turut hadir Ketua DPRD Takalar Muhammad Rijal, Panglima Divisi Infanteri 3/Kostrad Mayjen TNI Wulang Nur Yudhanto, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Takalar Solihin.
Sejumlah anggota DPRD, pimpinan organisasi perangkat daerah, dan camat juga tampak menghadiri kegiatan tersebut.
Sebelum acara utama dimulai, panitia menyuguhkan penampilan nasyid dari Pondok Modern Nurul Asafa. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh santri dan doa yang dipimpin pimpinan Pondok Pesantren Al Jazari Takalar, Ustaz Humaedi Hatta.
Pembukaan festival secara resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye.
Melalui pembentukan forum dan penyelenggaraan festival, Pemerintah Kabupaten Takalar berharap silaturahmi antarpesantren semakin kuat. Di sisi lain, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi santri untuk menampilkan potensi, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan keterampilan di luar pembelajaran agama.
Dengan demikian, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang berkarakter, kreatif, mandiri, dan siap menghadapi perkembangan zaman. (*)












