Sentra Mebel Manongkoki Berputar: Daeng Manye Hitung Potensi Bahan Baku Capai Rp192 Juta Sehari

TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye mengunjungi sentra mebel di Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Sabtu (3/10/2026). Kunjungan sekitar pukul 10.00 Wita itu dilakukan di rumah sekaligus tempat usaha mebel milik H Baharuddin Dg Ngago, sekitar 100 meter di sebelah barat Kantor Lurah Manongkoki.

Daeng Manye datang bersama ajudannya dan disambut H Baharuddin, Lurah Manongkoki, serta sejumlah tokoh masyarakat. Ia kemudian melihat langsung aktivitas produksi, mulai dari tumpukan kayu gelondongan hingga proses pemotongan menggunakan mesin sawmill.

Selama sekitar 20 menit, Daeng Manye mengamati kayu gelondongan yang diproses menjadi papan sebagai bahan baku mebel. Setelah itu, ia berdiskusi dengan warga mengenai skala usaha dan potensi ekonomi yang berkembang di kawasan tersebut.

Dalam dialog itu, H Baharuddin menyebut terdapat sekitar 100 pengrajin mebel di Manongkoki, mulai dari skala kecil hingga besar. Lima di antaranya disebut merupakan usaha berskala besar.

Menurut Baharuddin, terdapat 12 unit mesin sawmill yang beroperasi setiap hari untuk memasok kebutuhan bahan baku para pengrajin.

“Dalam satu mesin somel itu tiap hari mengolah satu truk kayu gelondongan. Jadi total ada 12 truk kayu sehari,” kata Baharuddin.

Ia menyebut produksi tersebut dapat menghasilkan lebih dari 200 lemari per hari, tergantung jenis dan kapasitas produksi.

Mendengar penjelasan itu, Daeng Manye mencoba menghitung nilai perputaran bahan baku kayu yang digunakan para pengrajin.

“Satu truk itu berapa kubik? Empat kubik? Berarti 4 dikali Rp4 juta itu Rp16 juta,” ujar Daeng Manye.

Jika kebutuhan tersebut dikalikan 12 truk, kata dia, nilai bahan baku yang berputar mencapai sekitar Rp192 juta per hari.

“Kalau Rp16 juta dikali 12 truk, bisa Rp192 juta, hampir Rp200 juta sehari!” lanjutnya.

Daeng Manye menilai angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di sentra mebel Manongkoki.

“Satu hari habis Rp200 juta bahan baku untuk 100 pengrajin,” katanya.

Selain nilai bahan baku, Daeng Manye menyoroti potensi penyerapan tenaga kerja. Dengan asumsi setiap pengrajin mempekerjakan rata-rata tiga orang, terdapat potensi sekitar 300 tenaga kerja lokal yang terlibat dalam aktivitas produksi.

“Kalau rata-rata 100 pengrajin menyerap tiga orang pekerja, berarti ada 300 tenaga kerja lokal yang terserap di sini. Ini potensi luar biasa,” ujarnya.

Produk Lokal Dipasarkan hingga Luar Takalar

Dalam pertemuan tersebut, Baharuddin menjelaskan bahwa produk mebel Manongkoki telah dipasarkan di Takalar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan serta Sulawesi Barat.

Ia mengatakan produksi meja dan kursi sekolah memiliki peluang pasar yang cukup besar, terutama jika didukung pesanan.

“Kalau lemari, prosesnya agak lama dan untungnya tipis. Lebih bagus meja-kursi sekolah, cuma itu tergantung pesanan sekolah,” ujarnya.

Daeng Manye kemudian mendorong para pengrajin memperkuat promosi melalui media sosial dan berbagai kanal digital.

“Ini luar biasa, tinggal perlu dipromosikan lebih masif, bisa lewat konten media sosial dan kanal digital lainnya,” kata dia.

Menurut Daeng Manye, produk mebel dan bangku sekolah dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Manongkoki.

“Apalagi fokus di sini membuat mebel dan bangku sekolah. Ini sangat bermanfaat bagi kemajuan warga Manongkoki dan Takalar pada umumnya,” ujarnya.

Seorang warga kemudian melontarkan seloroh, “Ingat mebel, ingat Manongkoki!”

Daeng Manye menyambutnya sebagai ide promosi.

“Nah, itu bagus! Bisa jadi tagline promosi,” katanya sembari tertawa.

Ia juga membandingkan Manongkoki dengan sejumlah daerah yang dikenal sebagai sentra industri mebel, seperti Jepara dan Pasuruan.

“Manongkoki ini sentra mebel, sama seperti sentra pengrajin mebel di Jawa, seperti Jepara dan Pasuruan,” ujarnya.

Daeng Manye turut mengajak sekolah-sekolah yang membutuhkan meja dan kursi untuk melihat potensi produk lokal dari Manongkoki.

“Ayo, sekolah-sekolah yang butuh kursi, bangku, atau meja, jangan lupa ke Manongkoki! Lihat-lihat dan pesan produk lokal di sini,” katanya.

Sebelum meninggalkan lokasi, Daeng Manye mengatakan kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah masukan yang dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun program pengembangan UMKM.

“Terima kasih atas sambutannya. Meskipun kunjungan ini dadakan, banyak masukan penting yang kami serap untuk bahan penyusunan program pengembangan UMKM ke depan,” ujar Daeng Manye. (Red/Liong)