TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menjadi pusat peluncuran serentak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi di 16 provinsi kawasan Indonesia Timur, Jumat, (2/10/2026) di Desa Timbuseng, Kecamatan Polongbangkeng Timur.
Peluncuran tersebut dihadiri Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Sudaryono bersama jajaran pejabat BGN, gubernur dan kepala daerah dari kawasan Indonesia Timur, korporasi, para ketua satgas Makan Bergizi Gratis (MBG), serta mitra SPPG.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Sulawesi Selatan sebagai lokasi peluncuran program tersebut. Menurut dia, agenda itu menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap wilayah yang masih menghadapi persoalan keterbatasan akses dan tingginya angka stunting.
“Ini satu kebanggaan bagi kami, Bapak, untuk hadir di tempat ini. Luar biasa. Ini bentuk perhatian Bapak untuk wilayah-wilayah tertinggal dan stunting,” ujar Andi Sudirman.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Takalar Daeng Manye memaparkan pengalaman pemerintah daerah dalam melakukan intervensi terhadap anak-anak yang mengalami indikasi stunting.
Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Takalar disebut melakukan intervensi terhadap sekitar 15 ribu anak dengan anggaran sekitar Rp56 miliar. Intervensi dilakukan selama 59 hari melalui pemberian makanan satu kali sehari.
Daeng Manye mengatakan program tersebut menunjukkan adanya peningkatan berat badan pada sebagian besar anak yang menjadi sasaran intervensi.
“Ini luar biasa. Ternyata ada kenaikan 70 persen berat badan anak-anak yang menunjukkan prevalensi stunting,” kata dia.
Menurut Daeng Manye, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan gizi membutuhkan intervensi yang tidak berhenti pada program sesaat. Pemberian makanan secara rutin dan berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga tumbuh kembang anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia berharap keberadaan SPPG dapat memperluas cakupan intervensi karena anak-anak sasaran akan memperoleh makanan bergizi secara rutin.
“Memang ada sesuatu yang kurang, tapi kekurangan itu tidak akan menutupi kemudian 57 juta,” ujar Daeng Manye dalam sambutannya.
Peluncuran SPPG di Takalar merupakan bagian dari agenda BGN untuk memperluas pelayanan pemenuhan gizi di wilayah 3T dan daerah dengan prevalensi stunting tinggi di 16 provinsi Indonesia Timur.
Prosesi peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, kemudian dilanjutkan dengan dialog dan arahan Kepala BGN.
Dalam rangkaian kegiatan itu, Kepala BGN juga berinteraksi secara daring dengan sejumlah SPPG di kawasan Indonesia Timur. Di antaranya SPPG Kumu Tombariri di Minahasa, Sulawesi Utara; SPPG Lalowaru di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara; SPPG Lombok Barat Batu Layar Senggigi 2; serta SPPG Sorong Maibo di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Setelah prosesi peresmian dan dialog, kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan fasilitas serta proses pelayanan SPPG di sejumlah wilayah.
Peluncuran serentak ini menempatkan Takalar sebagai salah satu titik penting dalam perluasan program pemenuhan gizi di Indonesia Timur. Program tersebut diharapkan memperluas akses makanan bergizi sekaligus memperkuat intervensi terhadap persoalan stunting di daerah yang membutuhkan perhatian khusus. (*)












