Kekeringan Melanda Bontoparang, LSM Pemantik Indonesia Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih

TAKALAR, TITIK–FAKTA.COM – Musim kemarau mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Takalar. Di Desa Bontoparang, Kecamatan Laikang, persoalan air bersih dirasakan warga di tengah kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari.

Kondisi itu mendorong Lembaga Pemantik Indonesia turun langsung menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat.

Sebanyak dua unit truk tangki yang masing-masing membawa 10.000 liter air diberangkatkan menuju Dusun Boddia dan Dusun Junggea, Desa Bontoparang, Jumat, (2/10/2026).

Penyaluran bantuan tersebut dihadiri Ketua Umum Pemantik Indonesia, Dr. Rustam Suddim, SH, MH, yang didampingi Sekretaris DPD Pemantik Indonesia Kabupaten Takalar, Rene Wijaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari bakti sosial Pemantik Indonesia untuk membantu warga yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat musim kemarau.

Setibanya di Bontoparang, kedatangan dua truk tangki disambut warga Dusun Boddia dan Dusun Junggea. Air kemudian disalurkan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sekretaris DPD Pemantik Indonesia Kabupaten Takalar, Rene Wijaya, mengatakan penyaluran air tersebut merupakan bentuk kepedulian lembaganya terhadap warga yang terdampak kekeringan.

“Kami melihat kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di tengah kondisi kekeringan. Karena itu, Lembaga Pemantik Indonesia berupaya hadir dengan memberikan bantuan air bersih kepada warga yang membutuhkan. Ini merupakan bentuk kepedulian Lembaga Pemantik Indonesia di tengah masyarakat,” kata Rene saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.

Menurut Rene, bantuan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga, tetapi juga menjadi bentuk dukungan kepada masyarakat yang sedang menghadapi kondisi sulit.

Ia berharap penyaluran air bersih itu dapat meringankan beban warga sekaligus memperkuat hubungan antara Pemantik Indonesia dan masyarakat.

“Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan kebutuhan masyarakat, khususnya warga yang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Penyaluran air bersih di Bontoparang menjadi contoh bahwa dampak musim kemarau membutuhkan respons langsung di lapangan. Ketika sumber air warga mulai terbatas, bantuan air menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas dan kebutuhan dasar masyarakat tetap berjalan.

(Red/Bombom)